[Bertemu Jaziel]

Anzel menatap sekelilingnya. Hari sudah mulai gelap. Lima menit yang lalu, Guru BK pasrah dan menyuruh Anzel pulang karena orangtuanya tak kunjung datang.

Anzel menelisik seluruh area penjemputan. Kosong, tak ada mobil Pak Supri yang biasanya menjemputnya. Karena mulai lelah, Anzel berjalan keluar, duduk di drop point untuk taxi. Ia sedikit menyesal karena semalam lupa mengisi daya ponselnya sehingga ponsel itu mati saat dibutuhkan seperti sekarang.

Waktu berlalu, hampir satu jam anak itu terduduk disana tapi tak ada satupun transportasi umum yang melewatinya. Bagaimana tidak? Ini sudah pukul 20.03 sedangkan pengoperasian bus atau taxi di area sekolahnya hanya sampai jam 6.30.

Dengan langkah sedikit gontai, anak itu mulai keluar ke arah jalan besar, barangkali ia bisa mendapatkan transportasi disana. 15 menit anak itu berjalan, cahaya lampu kendaraan dan suara klakson yang saling tumpang tindih mulai memunculkan perasaan tak nyaman.

Tubuh anak itu mulai bergetar, keringat seukuran biji jagung mulai membantai pelipisnya. Ia menghela napasnya kasar kala merasakan dadanya sedikit terhimpit. Tidak, tidak boleh. Ia tidak boleh seperti ini.

Anzel mulai melanjutkan langkahnya, namun belum ada lima menit, ia kembali berhenti. Kali ini sakit di dadanya seperti tidak bisa ditolerir lagi, membuat napsnya tersengal dan putus-putus.

NGINGGGGG Suara klakson mulai membuat telingannya berdenging. Kelereng Birunya menutup dan membuka dengan cepat sembari merasakan sensasi silai dari kendaraan yang berlalu disampingnya. Ia ingat. Suasana ini, dengingan ini, darahh…

Tolongggg… dadanya terasa ditimpa ribuan kilo jarum. Tidak, dia takut, suasana ini.. suasana persis seperti sore itu. Kilatan kejadian tragis itu kembali muncul dalam kepala Anzel. Sejenak, Anzel mulai memukul kepalanya, mencoba menghilangkan kenangan buruk. Otaknya bergemuruh, tapi dapat ia lihat, orang-orang mulai mengambil handphone untuk merekam aksi Anzel, Anzel sudah gila, mungkin begitu pikir mereka.

Setelah perkelahian batin yang begitu menyiksa, Anzel mulai membuka mata. Tatapan anak itu kosong menatap jalan raya di depannya. Namun sepersekian detik kemudian, anak itu mulai tersenyum. Tangannya seperti melambai ke arah sebrang. Namun, senyum itu hilang kala ia mulai mengingat kejadian yang ada dalam pikirnya.

“ENGGAK! JAZEL JANGAN MENYEBRANG!!!” Anak itu berteriak, seolah-olah ada orang lain yang ia peringatkan.

Tanpa aba-aba, Anzel lngsung berlari, menerjang belasan motor yang tengah berlalu lalang.

Deru klakson yang saling menyahut, denging, bau darah, semuanya seperti meraung di kepala Anzel.

BRAKKK

Hanya suara itu yang dapat Anzel tangkap sebelum kegelapan menyelimutinya.

—— Sea